Archive for August, 2006

Sabar adalah perekat

Wednesday, August 16th, 2006

Dari Sahabat di Jambi…

Perekat

:Monas Junior

Jika bertanya awan ke mana beranjak setelah di atas kepala, kau tanya saja angin. Jika bertanya burung ke mana terbang setelah di atas dahan kamboja, kau tanya saja kepaknya. Jika bertanya air kemana mengalir setelah di muara, kau tanya saja dasarnya. Jika bertanya hati ke mana berujung setelah lelah menghampiri, kau tanya saja jiwamu.

Sederhana

kan

? Sangat sederhana. Ketika kau tahu, kau satu-satunya orang tersendiri di antara ribuan orang-orang sibuk, kau akan termenung seperti lesatan peluru menghantam gunung. Benar-benar terhenti sendiri.

Jangan kau tanya asam habis di kulit jeruk, jangan pula kau tanya garam habis di dasar pantai, sebab mereka sudah meresap di kulit-kulitku, di wajah-wajahku, di lapisan neuronku, di bawah sadarku.

Ooo dikau dinda dirantau hati. Pulanglah ke pelukku. Kembalikan hatiku yang pernah kau bawa dulu. Pulangkan pula rindu yang telah kujual sejak

asmara

bangkit lagi.

Ooo dikau dinda di rantau jiwa. Pulangkan pula separuh jiwa yang sebenarnya telah kau rampas dengan telak meski tanpa kau sadari. Pulangkan pula impian-impian bersama yang seringkali mengakar di kaki-kaki bukit.

Sementara istana pasir sudah kubangun buatmu. Meninggi… meninggi…. Dan meninggi terus mengalahi langit-langit mimpi. Sadarkah kau, sebenarnya aku ingin engkau yang menjadi ratu, menjadi permaisuri, menjadi ibu suri setelah tahun-tahun keemasan kita nanti.

Andai engkau tahu sebenar-benar tahu. Asamku, asinku, rasa seluruhku telah habis, ketika kau mulai membara api. Murkamu, melemurkan segala, menghancurkan langkah-langkah yang sudah terarah.

            Ooo dikau dinda di rantau hati. Tahu pulakah kau, ketika usia sudah beranak-pinak berkaki-kaki berkepala-kepala banyak, kita bukan lagi pasangan jiwa. Kita hanya pasangan struktur baru yang sebenarnya sudah jelas dari sekarang.

            Usah bingung cinta, usahlah kau gamang. Sebab mengapa bunda membiarkan kita melekat di hatinya, sementara ayah tetap merajainya? Sebabnya satu, satu saja sebabnya. Itu karena mereka punya perekat kuat. Yang selalu menempelkan segala-segala terdekat.

            Seperi engkau, seperti ponakan, seperti cucu, seperti sepupu, seperti ratusan jiwa-jiwa terkait erat. Mereka merekat kuat di jiwa-jiwa tua itu.

            Kau pasti ingin tahu perekatnya. Ya, sebuah benda tak lazim. Kita tahu itu, orang tahu itu, semua tahu itu. Perekat itu, dinamai: Sabar. Ya, kesabaran wujudnya.

            Sabar dan kesabaran, satu elemen penting ketika cinta sudah benar-benar tua. Ketika cinta mulai kabur dan terpecah belah ke berbagai sudut. Sementara bentuknya telah beragam.

            Cinta benar-benar menuju kematian waktu itu, sementara yang kau tahu kini, cinta adalah segala pertemuan, segala kerinduan, segala pengabulan keinginan, segala keindahan, segala ketidakmungkinan jadi mungkin. Segala kekuatan, segala kebutuhan bersatu padu.

            Tapi… ooo dinda oo dinda…. Ketika tahun-tahun kepala bertambah, usia makin sedikit, cinta menjumpai ketidakbentukan yang kian absurd. Lalu benar-benar raib saat kau sadar, engkau sudah demikian tua untuk mengingat segala yang indah.

            Kebutuhan, adalah jiwa-jiwa menuju kejayaan. Singgasana terakhir, melihat keturunan kita, menemui kebahagiaan muda hingga tuanya yang mungkin tak lagi kita dampingi. Tujuan berhenti, hanyalah ketika tubuh, jiwa, hati, selesai di pertapaan hidup, dan perlahan mengangkasa ke tempat pesanggrahan terindah.

            Mungkinkah perekat itu ada di dirimu? Cintaku… Sementara pelajaran hidup tersulit, dan tak pernah bisa diketahui hasil ujiannya, adalah pelajaran kesabaran?

            Entahlah. Yang aku tahu, aku butuh rindumu dalam bingkisan sabar terbaik. Karena sabarku, penuh untukmu dengan asam, asin-nya hidup yang telah kucecap.

            

Selamat malam, sayang.

Jambi, 27 Juni 2006

Dari Sahabat

Monday, August 7th, 2006

Ya… Begitulah
: Monas Junior

Pagi Dinda…
Aku tahu senyummu masih seperti pertama kita sua. Selalu saja kau kulum. Selalu saja kau mampu membuatnya demikian indah, dan penuh misteri. Selamat pagi, Cinta. Kau kelihatan tidur pulas semalam. Aku senang.

Bicara apa kita hari ini? Kau mau apa? Baiklah, kita bicara tentang rengekan yang keluar dalam celoteh tolak-harapmu. Ya, penolakan, tetapi kau juga berharap. Benar begitu, kan? Sayang…

Yup. Kau berceloteh tentang dirimu yang kau nilai; cerewet, manja, banyak permintaan, keras kepala. Dan kau merutuki dirimu seperti tak mau memaafkan. Dan kau, membuat aku berpikir bermalam-malam setelah itu. Berpikir, bagaimana menjelaskan betapa aku telah mengenalmu, dengan segala elemen yang ada di tubuhmu-jiwamu.

Jadi, hari ini kita bicara tentang karakter manusia saja. Biar kau tenang, aku puas. Puas sudah sampaikan betapa aku mengenalimu jauh sebelum aku mengenali diriku sendiri, ataupun orang-orang mengenali dirinya sendiri.

Kembali ke karakter. Baiklah.

Suatu saat, kawan dekatku menanyakan hal yang membaut aku kaget sekaligus tersanjung. Waktu itu kami di sebuah kedai samping kantor. Biasalah, memenuhi hasrat perut sekaligus memuaskan dahaga kerongkongan. Plus kopi, plus berbatang-batang tembakau, plus musik dan plus ocehan belasan pengunjung kedai lain.

Dia bertanya, “kok kau tahan dengan Dia? Aku saja tak tahan dengan sikapnya. Kalau aku jadi kau…” begitu katanya sambil menyeruput kopi, mengernyitkan dahi lalu menghisap Sampoerna Mild di bibirnya.

Lalu kujawab sekenanya, “Ya… begitulah Dia,” tukasku cepat. Sambil membubuhi bumbu-bumbu kesal yang kian ambigu.

Dia yang kami bicarakan, adalah teman sekamarku yang sikapnya ‘aneh’ dinilai kawan-kawan sekantor. Waktu itu kami tinggal di mess kantor. Tiap hari, ada saja ulahnya yang membuat orang kesal.

Mulai dari kepicikannya, kepelitannya, kelicikannya, hingga ke-ke yang lain. Simpulannya, tak banyak orang menyukai kehadirannya. Meski, orang-orang tak bisa begitu saja terhindar darinya.

Dia, tokoh nyata. Karakternya, juga nyata. Jadi, “ya…. begitulah Dia.” Penilaianku waktu itu, hanya sebatas perkataan itu. Tak berjabar.

Hingga, suatu saat aku belajar banyak dari, lagi-lagi kawan dekatku. Wanita. Cantik, sudah bersuami dan masih menganggap dirinya gadis yang pantas dimanja. Bah! Tapi, lagi-lagi aku menerimanya dengan damai, karena… “ya… begitulah Dia.”

Kawan wanitaku yang suka bermanja itu bilang, (suatu saat aku berkata-kata agak ‘nakal’); “Kau ni, cubo lah jangan ngomong kayak gitu lagi. Dak berubah-rubah,” ujarnya menyalak. Aku teringat anjing tetangga yang acapkali ‘menyapa’ku tiap pulang malam.

Lalu kujawab sekenanya, lagi. “Loh, beginilah aku. Kalau aku berubah, kau pasti akan bingung, aku juga bingung, semua jadi bingung,” jawabku, kau tahu, sekenanya saja.

Aku terus mengetik narasi. Bercanda dengan kata-kata yang makin ‘nakal’ tapi berdasar fakta. Orang-orang menyebut tulisan yang aku buat itu, sebagai BERITA. Memberitakan, begitu pembenarannya. Tapi, au ah!

Kan kita sedang bicara karakter, nih. Kita sedang bicara manusia, nih. Kita sedang memahami celotehanmu tentang dirimu sendiri, nih. Jadi, masalahnya adalah…. Aku tak tahu harus diperpanjang berapa alenia lagi.

Yang jelas. Karakter manusia itu, sesuatu yang terbentuk dengan tidak disengaja. Menjadi satu dengan darah, daging, tulang. Lalu mengalir ke kulit di semua permukaan tubuh. Dan, BANG! Terciptalah aku, kau, mereka, semua!

Karakter itu, bukan terjadi begitu saja seperti yang aku tulis di atas, BANG! (ini ilustrasi saja, biar manis gitu loh!). Tapi penciptaannya bertahun-tahun sejak manusia mulai berkenalan dengan lingkungannya. Ya alam, ya manusia, ya gaib dan ya proses belajar.

Lalu semua pembelajaran itu, pelan-pelan telah membalut dirinya, dan menjadikan dia seseorang yang akan dikenal setiap orang. Karakter, adalah seseorang. Karakter, adalah KTP bagi semua orang. Jika seseorang mengubah karakter, artinya siap-siap merubah KTP yang tak punya tanda tangan Camat dan tak bermasa berlaku.

Ketika si ‘Dia’ berubah menjadi Aa’ Gym (misalnya), maka ‘Dia’ bukan lagi kawan yang kukenal. Dan aku akan segera menjauh darinya sambil berteriak, “Engkau siapa!”. Lalu, kalau tidak dia pergi, aku yang berangkat dari kamar mess beberapa waktu lalu (buktinya aku bertahan hingga dia menikah dan beranakpinak).

Dan kini, ketika kawan wanita yang masih suka manja itu mengetahui aku berubah, maksudku karakterku kuubah, dia juga akan melakukan hal yang sama. Jadi asing, jadi bingung, jadi aneh melihat aku. Dan dia pasti bertanya-tanya, “ada apa denganmu? Sakit? Buntu (tak ada uang)? Ada masalah?”

Tentu itu membuat aku jadi berkata, “Loh!” lalu, “Iya, ada apa denganku? Sakitkah aku? Buntukah aku? Ada masalahkah aku?” Tiba-tiba, aku terpaksa kembali menjalani karakter yang kemarin, kemarin dan kemarinnya lagi. Seperti yang biasa orang-orang kenal. Bahwa aku adalah aku, adalah benar. Bahwa karakterku begini, dan selalu akan begini, juga merupakan kebenaran. Meski masih absurd.

Simpulannya apa, Dindaku rindu? Kau bingung? Aneh? Berkerenyit? Ya, sudah, biar kubantu menyimpulkan.

Aku akan mengenali kau, karena kau seperti ini. Cerewet plus judes, plus manja, plus banyak permintaan, plus keras kepala. Barangkali aku perlu tambahkan; plus imut-imut, plus cantik, plus menggemaskan, plus penuh harapan dan plus seksi! (ups! Maaf agak ‘nakal’).

Ya, jadi jangan sungkan-sungkan lagi, cintaku. Kau telah kuterima dengan damai sedamai angin memimpin awan, sedamai daun melindungi batang, sedamai ibu menitip cintanya di hati kita.

Aku menerimamu, karena; “ya… begitulah Engkau.” Dan semestinya kau menerimaku disebabkan yang sama; “ya… beginilah Aku.”

Bonus, jika karakter buruk pada kita bisa sama-sama kita kurangi. Catatannya, jangan sampai hilang sama sekali. Bisakah? Nah itu dia. Merubah karakter, berarti kembali ke kehidupan dimana kita memulai semua pelajaran.

Artinya… Tidak usah sungkan-sungkan berubah baik. Tapi, tidak apa-apa kau begini. Sebab, kau pasti sudah tahu sekarang, aku sudah menerimamu karena… “(tolong isikan)…”

13 Agustus 2006